SILAU DI GELAPNYA MALAM

Source: WhatssApp Fida


Para ulama mendefinisikan manusia sebagai hayawanun natiq, hewan yang di anugerahi akal lebih. Dalam diri manusia masih bersemayan sifat-sifat hewaniyah. Namun tetap, di samping realita tersebut, manusia tetap yang paling utama. Syaikh az-Zarnuji menulis beberapa diksi epic di dalam kitab masyhurnya, Ta’lim Muta’lim, sebagai berikut:

لان جميع الخصال سوي العلم يشترك فيهآالإنسان وسائر الحيوانات كآشجاعة والحراة ... وغيرها سوي العلم وبه اظهر الله تعالي فضل ادم عليه الصلا ة والسلام علي الملا ئكة بالسجود له

Keseluhuran perilaku manusia selain ilmu itu sama dengan seluruh perilaku hewan seperti pemberani, kuat... dan lain-lain (intinya) selain ilmu. Karenanya, Allah lebih mengutamakan Nabi Adam sehingga memerintahkan para malaikat sujud padanya.

Sayangnya, pemaparan tersebut hanya berlaku bagi mereka yang menyelenggarakan ilmu untuk dirinya dan orang lain. Bila tidak, status manusianya hanyalah sebuah kebohongan.

Menurut teori kepribadian tripartit ala Freud, ada trilogi dalam kepribadian  manusia, salah satunya id. Adalah tempat insting dan agresif di samping insting mempertahankan diri (mirip seperti insting hewan). Kemudian, Freud menekankan agar ketiga kepribadian tersebut saling menguatkan satu sama lain. Sudah dapat dikatakan bahaya, ketika tiga kepribadian manusia itu tidak harmonis. Maka yang terjadi adalah tidak beraturannya kepribadian dan saling merebut posisi yang dominan. Yang pastinya rentan sampai pada puncak ialah id, sifat buruk manusia yang meresahkan (memang di id ini ada yang baik dan buruk, tapi yang lebih mendominasi ialah yang buruk). Sekeitka ia menjadi hewan yang gemar tindas-menindas dengan cara apapun layaknya kapitalis rantai makanan hewan.

Di dunia nyata, kita sering melihat hewan berkeliaran yang berkedok manusia. Ruang lingkupnya sekedar menang kalah. Tidak terpancar sama sekali hati nurani. Apalagi kalo sudah ngomong posisi dan jabatan, tiba-tiba manusia yang di agungkan Tuhan berubah menjadi hewan. Tak ayal, hewan-hewan itu ikhlas menindas satu sama lain sekalipun pada akhirnya nyawa yang harus di bayarkan. Tujuan mereka hanya demi  قام رياء (pengakuan diri) dan سمعة (pengakuan atas orang lain).

Peristiwa ini sudah terjadi sejak dahulu kala. Di dalam kitab Riyadhus Sholihin di ceritakan hadis yang di riwayatkan oleh Jabir bin Sumrah R.A., yang intinya berisi: Ahlul Kuffah melapor pada Umar bin Khattab atas Sa’ad bin Abi Waqash yang pada akhirnya Umar bin Khattab mengganti Umar bin Yasir. Tuduhan yang di ajukan ialah Sa’ad bin Abi Waqash tidak mengaktualisasi sholatnya. Namun, setelah Umar bin Khattab menyuruh utusan mengenai kasus ini, warga Kuffah bersepakat bahwa solat dari Sa’ad bin Abi Waqash sangatlah berkualitas. Lalu muncul delegasi Bani Abbas yang bernama Usamah bin Qatadah. Ia menuduh lebih keji pada Sa’ad bin Abi Waqash bahwa ia di tuduh tidak mengikuti peperangan, tak membagi harta secara rata, tidak adil dalam memberikan keputusan. Akhirnya, tuduhan Usamah bin Qatadah batil.

Kyai Nasihuddin, selaku pembaca kitab ini mengatakan bahwa jika seseorang ingin viral, terkenal dan di pandang, cukup menuduh atau memfitnah orang yang cukup di pandang. Seakan-akan seseorang yang menuduh tadi lebih hebat daripada seseorang yang di tuduh. Dan di sinilah sisi kehewanan seseorang muncul.

Selain contoh di atas, zaman sekarang yang sudah tertata dari segi tatanan agama, tatanan pengetahuan, tatanan sosial yang sebenarnya baik malah di nafikan, di caci, dan di muntahkan secara cuma-cuma. Pengennya seseorang tersebut menjadi pembaharu, tapi terkesan maksa. Karena ia membawa hal baru yang mana memang hal yang sudah benar benar ada itu benar secara dasar dan benar secara etik.

Sialnya, seseorang yang mencoba menjadi tokoh tersebut tidak meninjau dari berbagi aspek terlebih dahulu. Pernah saya temukan seorang netizen yang menuliskan di kolom komentar, “Saya lebih baik memilih seorang ustaz yang di musuhi pemerintah”. Membacanya saya sudah nggumun. Kok memilih menjadi pemberontak. Adapun jika memang keadaan yang riil bertentangan dengan segala kebenaran, pemerintah cukup di kritik supaya lebih baik . Hal ini pun berlaku di segala situasi yang ada. Tapi kenapa masih memilih tokoh yang beraviliasi bahwa Nabi Muhammad dulu sangat di benci kalangan masyarakat. Kalau dari sudut pandang kejadian di saat itu, wajar saja beliau di musuhi. Karena situasi di masa tersebut masih dalam keadaan miskin moral atau yang biasa di sebut ‘jahiliyah’. Beda dengan sekarang yang sudah tertata sedimikian rupa. Kenapa malah memilih menjadi pembangkang?

Tak jauh beda dengan contoh sebelumnya, beberapa orang yang ingin menjadi tokoh ini menggunakan segala cara entah mempelintir argumen seseorang, menyebarkan hoax, dan cara-cara lainnya. Sekali lagi, siapapun itu, sisi kehewanannya telah bangkit. Merubah hal yang sudah di sepakati, demi kepentingan sendiri.

Saya memakai analogi silau sebagai fenomena bagi seseorang yang ingin di pandang terangnya di tengah-tengah masyarakat yang gelap. Naasnya, caranya yang salah menjadikan orang sekitar terganggu karenanya. Cobalah anda berada di tempat yang gelap, lalu menyalakan lampu yang begitu silaunya, bukannya menerangi, malah mengganggu. Sinar yang berlebihan dan tidak sesuai kadarnya menjadikan cahaya yang hakikatnya menerangi, menjadi merusak mata sendiri. Sekiranya begitu yang terjadi bagi mereka yang memenangkan sisi kehewanannya dari pada kemanusiaannya sendiri, mereka yang tidak mampu me-manage antara id, ego, dan super egonya sendiri.

Wallahu a’alamu bisshoab

Shofi Mustajibullah Saya Shofi Mustajibullah lulusan SDN Dipenogoro Gondanglegi, SMPN 01 MOJO, SMAN 01 MOJO, PONPOES Al-falah. Saat ini masih mengenyam pendidikan di Universitas Islam Malang dan Pondok Pesantren Kampus Ainul Yaqin

Related Posts

0 Response to "SILAU DI GELAPNYA MALAM"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel