DENGAN PENDIDIKAN, KITA DAPAT MENGATASI URUSAN DUNIAWI DAN UKHRAWI
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu yaitu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi, dan berbuat baiklah kepada orang lain, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. [Surah Al-Qashash ayat 77]
Ayat tersebut merupakan penangkal dilema bagi setiap individu seorang Muslimin, yang masih banyak di antara mereka yang belum kokoh prinsip keagamaannya, pada akhirnya melemahkan hati mereka dan bingung memilih jalan duniawi atau jalan ukhrawi. Banyak sekali faktor yang menyebabkan hal itu bisa terjadi, salah satunya belum sempurnanya wawasan tentang kehidupan. Mereka mungkin belum paham makna dari kehidupan di dunia ini, bahwasannya seperti yang dikatakan Rasulullah S.A.W. “Dunia adalah jembatan menuju akhirat, dan akhirat lebih utama dari pada dunia”
Bagi mereka yang terlalu condong pada duniawi ialah golongan manusia yang menganggap bahwa dunia adalah surga dan merupakan tujuan hidup, dan mereka akan bersusah payah menaruh harapan materi duniawi, tidak sekalipun mengaktualisasikan amaliyah dan ubudiyah mereka kepada yang Maha Esa, melainkan menggremus seluruh aset duniawi dengan segala cara.
Bagi mereka yang terlalu condong pada ukhrawi ialah golongan manusia yang beranggapan bahwa dunia ini bagaikan tempat penyiksaana bagi mereka, dan tempat hiburan bagi orang-orang lalai. Keseharian mereka hanya di peruntukkan pada agama dan Allah, tanpa memiliki kontrubusi yang pasti terhadap orang lain serta kadang sedikit menyusahkan lainnya dengan atas nama agama. Biasanya mereka di sebut orang yang mabuk agama.
Bisa di tarik kesimpulan, bahwa golongan yang cukup baik ialah mereka yang beranggapan bahwa dunia ini bukan surga dan juga bukan neraka, akan tetapi dunia adalah kebunnya surga, menjadikan dunia sebagai saran untuk mencapai Ridho Allah S.W.T. mereka akan turut andil kepada orang lain demi kesejahteraan bersama yang mana itu semua semata-mata tulus Lillahi Ta’ala.
Sebisa mungkin kita sebagai orang muslim sudah seyogyanya membagi porsi dunia dan porsi akhirat seoptimal mungkin. Selain kita adalah hamba dari Sang agung, kita juga makhluk hidup yang pasti bersosial
Namun disini timbul permasalahan lagi, bagaimana caranya kita dapat menyelesaikan segala urusan dunia maupun akhirat?.
Jawabannya ada pada sabda baginda Nabi Muhammad S.A.W. “Barang siapa yang menghendaki dunia, maka capailah dengan ilmu, barang siapa yang mengehendaki akhirat, maka capailah dengan ilmu, dan barang siapa yang menghendaki keduanya, maka capailah dengan ilmu”.
Pengertian Ilmu pengetahuan (ilmu) sendiri menurut kitab Ta’lim Muta’alim ialah sifat yang memperjelas bagi siapa saja yang memliki sifat tersebut. Sifat yang terbentang luas dengan fungsi memahami akan fakta, kebenaran atau informasi yang didapat dari pengalaman, pembelajaraan atau introspeksi. Disisi lain, ilmu pengetahuan adalah salah satu anugerah terbesar Allah yang diberikan kepada seluruh manusia, karena ilmu pembeda antara manusia dengan hewan. Syaikh Muhammad bin Hasan bin Abdulluah memuji keagungan ilmu dalam gubahan syai’rnya yang berbunyi “Carilah Ilmu!, sebab ilmu adalah perhiasan keutamaan dan pertanda bagi setiap orang yang dipuji”.
Kegiatan pengemabangan ilmu pengetahuan seseorang disebut “PENDIDIKAN”. Sebuah sistem pengajaran, pelatihan, penelitian kepada sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Adanya sistem tersebut perlu diapresiasi, sebab pada hakikatnya pengembangan seseorang ditentukan oleh pembawaan dan lingkungannya (konvegerasi) (Lois William Stern : 1871 – 1938). Setiap orang memiliki potensi dan juga mampu mengembangkan dan memperluas keterampilannya melalui pendidikan.
Dalam pendidikan sendiri terdapat pembelajaran yang bernama Ranah Afektif. Pembelajaran yang berkaitan dengan sikap dan nilai, mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap dan nilai. Serta mencoba memahami etika, tata krama, dan moral. Pada Ranah Afektif terdapat jenjang yang disebut Receiving atau Attending. Pada jenjang ini, seorang murid dibina agar bersedia menerima nilai-nilai yang diajarkan kepada mereka dan mau menggabungkan diri ke dalam nilai itu atau mengidentifikasikan diri dengan nilai. Contoh hasil pembelajaran Ranah Afektif seperti seorang murid paham akan hal-hal wajib dalam agama harus ditegakkan dan sebaliknya harus dijauhkan.
Selain peran pendidikan dalam membenahi bathiniyah Murid, pendidikan juga tidak luput untuk memprestasikan lahiriyah seorang murid. Pendidikan mempunyai peran yang sangat penting, dalam kaitannya dengan pengelolaan dan pelestarian lingkungan dan sumber daya alam. Apabila sejak dini para murid telah diusahakan untuk berfikir dan bertindak arif terhadapa lingkungan sekitar, maka tujuan pembangunan nasional yang berorientasi terhadap kemajuan akan tercapai.
Ada juga tiga peran pendidikan dalam cakupan luas (Economics of Education, Prof. Dr. Veitzhal Rivai Zainal, S.E, M.M, M.B.A.) yaitu Pertama, pendidikan adalah alat untuk perkembangan ekonomi dan bukan sekedar pertumbuhan ekonomi. Kedua, investasi pendidikan memberikan nilai baik (rate of return) yang lebih tinggi dari pada investasi bidang fisik lainnya. Ketiga, investasi dalam bidang pendidikan memiliki banyak fungsi selain fungsi teknis-ekonomis yaitu fungsi sosial-kemanusiaan, fungsi politik, fungsi budaya.
Dengan demikian, setelah disebutkan hal-hal yang ada di dalam pendidikan, sudah jelas bahwa pendidikan ialah kegiatan yang mengamalkan apa yang didawuhkan Rasulullah S.A.W. “ Beramallah untuk dunia seaka-akan kamu hidup selamanya, dan beramallah untuk akhirat seakan-akan kamu mati besok”. Semaksimal mungkin dalam berupaya untuk dunia maupun untuk akhirat.
Pada puncaknya, seseorang yang sudah melewati seluruh proses pendidikan, dia akan diangkat derajatnya sesuai janji Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Mujadalah Ayat 11 yang berbunyi “Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman diantara kamu, beramal solih, dan orang-orang yang berilmu pengetahuan ”. Kriteria seseorang yang sudah mencapai fase paripurna ini yaitu akan menjadi mukmin sejati yang “Menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya”, dengan ilmunya dia bertekad menciptakan kesejahteraan bersama dan kemaslahatan seluruh umat manusia.
Setiap perilakunya akan tercitra kebaikan dan kemanfa’atan seperti apa yang di jelaskan oleh Imam Al- Ghozali dalam karyanya Bidayatul Hidayah, yaitu seseorang tersebut menempati derajat malaikat, seorang hamba yang semua aktivitas maupun pekerjaannya bermanfaat dan menyenangkan hati orang lain. “Sebaik-baik seorang manusia, dialah yang bermanfa’at kepada orang lain”, hadits ini konkrit dan berkesinambungan dengan penjelasan Imam Al-Ghozali.
Sesungguhnya anda akan menuntaskan urusan duniawi dengan ranah afektif yang ada di dalam pendidikan sekaligus menjadi kan diri anda sebagai hamba yang bijaksana karena sudah mencoba mencapai pada Sang Haq. Anda juga akan menuntaskan urusan duniawi dengan visi misi pendidikan yang cukup megah sekaligus menjadikan diri anda sebagai 'personal service-nya' masyarakat.
Alhasil “Carilah Ilmu Pengetahuan (Pendidikan) sampai ke Negeri Cina”. Ungkapkanlah kebenaran yang Tuhan wujudkan melalui pendidikan. Ilmu pengetahuan ibarat lautan luas yang ada di dunia ini, baru 20% saja yang sudah dijelajahi oleh manusia dari 80% luas seluruh lautan. Maka dari itu, gapailah ilmu pengetahuan seluas mungkin dan sebanyak mungkin, sebab seseorang yang sudah terdidik akan memiliki kesadaran penuh bahwa dunia ini hanya dijadikan sebagai kesempatan untuk berinvasi seluruh kebaikan yang ada didalamnya, dan menjadikannya sebagai jembatan untuk menuju tempat abadi, yaitu disisi-Nya.
NB: Tambahan sedikit yang agak bersebarangan dengan tema tulisan di atas. Ketika Anda berada di lingkungan sistem pendidikan yang kurang menarik, kritiklah ssistem tersebut dan jangan menjadi benci terhadap pendidikan, ketika Anda tidak suka dengan budaya atau kultur dari sebuah lembaga pendidikan, kritiklah budaya kultur tersebut dan jangan benci pendidikannya. “Teruslah mencari ilmu mulai sedari Anda siap hingga Anda mati”. Long life education
Wallahu a’alamu bisshoab
0 Response to "DENGAN PENDIDIKAN, KITA DAPAT MENGATASI URUSAN DUNIAWI DAN UKHRAWI"
Post a Comment