WAHDATUL WUJUD, AL-HALLAJ, DAN TOLERANSI
Doktrin wahdatul wujud – dikenal pula dengan istilah “Pantheisme” – mulai di perkenalkan oleh sufi-filsuf bernama Ibnu Arabi, lengkapanya: Abu Bakr Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad al-Hatimiath-Thai al-Mursi al-Andalusi ad-Dimasyqi. Ulama yang bergelar Syaikh al-Akhbar (Guru besar) itu menjadikan wahdatul wujud sebagai bentuk paripurna dari tasawuf falsafi.
Di jelaskan dalam buku berjudul, “Tasawuf Falsafi” karya Prof. KH. Aqil Siraj, MA. mengenai pengertian wahdatul wujud, yaitu satu aliran pemikiran tentang wujud yang mengatakan bahwa segala sesuatu adalah Allah. Atau bahwa Allah adalah segala sesuatu itu. Artinya, Allah adalah alam ini, atau alam ini adalah Allah. Ironisnya, berbagai pembahasan tauhid di kalangan ulama’ pada umumnya, menyatakan bahwa selain Allah adalah alam.
Buah pikiran ini tumbuh melalui evolusi teori-teori sufi terdahulu, seperti fana (pengkosongan) dan ittihad (peleburan). Setelah seseorang mengkosongkan ke-aku-annya, lalu melebur bersama dzat-Nya, seorang hamba pada akhirnya hanya melihat di jagat alam raya ini hanya Allah semata. Garis besarnya, tiada wujud selain Allah. Ibnu Arabi melantunkan syair yang berbunyi:
وماثم الا الله لاشيء غيره # وما ثم ثم اذ كانت العين واحدة
Tiada yang lain di sana kecuali Allah, tiada pula sesuatu yang selain - Nya;
tiada sesuatu di sana yang di sana , karena pada hakikatnya Esensi - nya itu tunggal belaka.
Jauh sebelum lahirnya sufi veteran sekelas Ibnu Arabi, ada seorang sufi ekstrim yang bernama lengkap: Abu al-Mughits al-Husain bin Manshur bin Mahma atau lebih di kenal dengan al-Hallaj. Beliau merupakan sufi yang cukup kontroversi, salah satu penyebabnya karena jargon fenomenalnya:
انا الحق
Aku adalah yang Haq (yang maha benar)
Labih jauh lagi, di katakan dalam buku dari ketum PBNU ini bahwa al-Hallaj sangat mengagumi dua tokoh yang di laknat dalam Islam, yaitu Iblis dan Firaun. Al-Hallaj beranggapan kalau kedua tokoh tersebut memiliki daya ma’rifat yang kuat sehingga beliau mengaguminya.
Di samping pemikiran-pemikirannya yang anti-mainstrem tadi, al-Hallaj memiliki gagasan sakral dan brilian dari teori ‘Nur Muhammad’. Konskuensi dari gagasan beliau adalah bahwa keberagaman agama yang ada di dunia ini hanya bentuk lahiriah atas hakikat yang tunggal.
Pernah suatu ketika, Abdullah bin Thahir al-Azdi bertengkar dengan seorang yahudi lalu mencacinya dengan perkataan, “Hai anjing!”. Tiba-tiba al-Hallaj menatapnya dengan kecut. “Jangan kamu bentuk anjingmu sendiri!”, tandas al-Hallaj. Seketika al-Hallaj pergi dan Abdullah mengejarnya. Akhirnya al-Hallaj berpaling padanya seraya menasihatinya:
Wahai putraku, agama itu semuanya milik Allah SWT. Sekelompok manusia menganut agama tertentu bukan karena pilihan mereka, tapi dipilihkan untuk mereka. Siapa pun yang mencela seseorang dengan tu duhan batil terhadap apa yang dianutnya, maka ia jelas telah menghakimi dirinya memilih apa yang benar untuk dirinya. Ketahuilah, agama Yahudi, Nashrani, Islam, dan agama-agama yang lainnya, hanyalah sebutan berbeda dan nama-nama yang beragam; sementara target dan tujuannya itu sendiri tidaklah berubah, tidak pula berbeda.
Kemudian al-Hallaj mendedangkan syair yang begitu indahnya kepada muridnya itu:
تفكرت في الأديان جدا محققا # فألقيتها أصلا له شعب جما
فلا تطلبن للمرء دينا فإنه # و يصد عن الأصل الوثيق وإنما
يطالبه أصل يعبرعنده جميع # المعالي والمعاني فيفهما
Aku merenungi agama-agama dengan serius dan menyelidik;
saya lalu menemukan satu asal dan akar, yang darinya
tumbuh banyak cabang
Janganlah kalian mengenal seseorang dari agamanya;
karena hal itu akan menghalangimu mencapai
hubungan persaudaraan hakiki;
Hendaklah ia dipertemukan ke dalam satu asal, satu akar;
yang menghimpun pada dirinya semua nilai luhur dan makna;
maka
pahamilah baik-baik
Dari kedua pemikir tokoh agung islam tersebut, muncul sebuah nilai penting bagi seluruh umat dunia. Khususnya mereka yang beragama islam, terkhusus lagi bagi masyarakat Indonesia, yakni toleransi. Mengapa ? Karena wacana mengenai kemajukan di negara ini seakan tak pernah lunas secara tuntas. Pendapat demi pendapat terus di persembahkan dari segala suku, ras, dan agama masing-masing.
Jika fenomena ini keterusan dalam negeri ini, bisa di pastikan antara satu golongan dengan golongan lainnya saling bermusuhan. Agama, di Indonesia sangat kental nuansanya. Argumen setiap delegasi mengklaim penuh tentang kebenarannya, sebab kaitannya sudah dalam lingkungan ketuhanan.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, seluruh masyarakat Indonesia harus berpegang pada toleransi. Sabar dan menghargai pemikiran orang lain yang berbeda dengan kita, serta saling tolong-menolong antar sesama manusia tanpa memandang suku, ras, agama, dan antar golongan. Tidak mencela/menghina agama lain dengan alasan apapun.
Sebetulnya, kebiasaan buruk masyarakat indonesia yang terus menjadi tradisi adalah saling bertanya tentang agama apa yang di anut. “Agama mu apa bang”, “Emang agama lo apa”, “sok sokan, emang agamamu apa”. Mulai dari sini, timbullah bibit-bibit rasisme. Sebab, ketika jawaban yang di terima tidak cocok dengan yang bersangkutan, persaudaraan akan rontok dengan sendirinya. Standard solidaritas hanya pada agama saja, tidak di tinjau dari aspek-aspek lainnya. Hilang rasa empati antar sesama. Apakah agama yang menjadi penyebabnya? Sangat-sangat tidak. Al-Qur’an dan hadtis secara tegas memerintahkan untuk senantiasa mempererat persaudaraan.
Agamawan akan angkuh ketika menganggap agamanya sendiri yang paling benar (mutlak), dan menafikan yang lain-lainnya. Apakah dengan menganggap semua agama itu ada di jalan yang benar dapat meruntuhkan jati diri agama tersebut? Mengenai ini banyak pendapat yang berbeda. Akan tetapi, bukan berarti dengan kita beranggapan semua agama ada di jalan yang benar, menjadikan agama yang di anut terasa hambar. Kalau bahasanya Habib Husein Ja’far, “Radikal ke dalam, lunak ke luar”. Ketika kita menghargai semua kepercayaan lantas menjadikan kita runtuh akan kepercayaan yang di anut, bukankah kita sendiri yang malas, yang bosan, dan lemah akan keyakinan agamanya sendiri. Lalu mengapa menyalahkan kemajukan?
Alangkah baiknya, kita mengikuti ulama-ulama yang betul-betul mengkampanyekan toleransi dan perdamaian, seperti Habib Ali al-Jufri, kemanusiaan sebelum keberagamaan. Dawuhnya Gus Mus, “Soleh ritual, soleh sosial”. Al-Hallaj saja, seorang sufi yang notabene no sosial-sosial club memahami jika persaudaraan itu begitu penting tanpa memperdebatkan agama.
Mengapa kita tidak menjadi hamba yang berpemahaman bahwa segala sesuatu di dunia ini merupakan manifestasi (tajalli) dari sang Maha Tunggal. Akhirnya, kita tidak memiliki hak untuk menghakimi, menindas, dan merusak suatu wujud yang sejatinya wujud tersebut adalah Dia. Karena itu, usahakanlah menjadi seorang hamba yang Maha Tolerasnsi, dan Maha Perdamaian.
Wallahu a’alamu bisshoab
0 Response to "WAHDATUL WUJUD, AL-HALLAJ, DAN TOLERANSI"
Post a Comment