VARIABEL KOLEKTIF
![]() |
Manifesto dari kumpulan variabel (variabel kolektif) |
Pekerjaan kuli atau pekerja bangunan seringkali digunakan percontohan dari kerja keras yang tidak membuahkan kesuksesan. Sering sekali beberapa cuplikan yang muncul di timeline saya, bahwa kalau kerja keras membuahkan kesuksesan lantas mengapa kuli tidak menjadi seorang miliuner atau bahkan triliuner.
Sederhananya, beban pekerjaan yang sangat berat tidak sepadan dengan pokok gaji yang diterima. Pernah saya mendengar, kalau sistem penggajian kuli bagian perhari dan bergantung pada toleransi mandornya. Kadang hanya puluh ribu, paling mentok ratusan ribu. Sayangnya, proyek yang diterima tidak menentu. Jika si kuli bangunan hanya menerima tawaran pekerjaan tidak penuh dalam kurun waktu satu bulan misalnya, dia hanya memiliki total pendapatan dari proyek minim tersebut.
Fakta ini sudah lazim diketahui banyak orang. Sehingga dalam menyikapi sebuah kesuksesan, banyak orang selalu kontra dengan penekanan kerja keras. Dalih yang digunakan adalah fakta dari kuli bangunan yang menguras tenaga fisik namun perolehan gaji yang terbilang rendah.
Akhirnya, pola pikir dalam menggapai keberhasilan dan kesuksesan menjadi rancu. Ada yang mengatakan tanpa perlu kerja keras, namun cukup kerja cerdas dan sebagainya. Padahal, kerja keras adalah hal paling dasar dalam mencapai tujuan. Asumsi saya, alternatif yang digunakan kebanyakan orang dalam mencapai tujuan merupakan antisipasi atau memang malas.
Hal yang demikian tidaklah keliru. Justru merupakan inovasi dari mindset manusia. Akan tetapi, pola pikir yang terlalu mengkotak-kotakan juga tidak baik. Bahkan bisa dibilang buruk.
Saya umpamakan seperti ini, 'Untuk mencapai C, jika A terlalu jauh maka cukup langsung pada B'. Tentu, urutan huruf mengharuskan A terlebih dahulu baru kemudian B dan sampai pada C. Bukan berarti A sebagai awal dari semuanya, tidak menghiraukan B supaya sampai pada C. Begitu juga dengan langkah alternatif, tanpa perlu mengawali A, B pun bisa menjadi langkah cepat menggapai C.
Nah, perumpamaan tersebut adalah manifestasi konsep mindset yang saya bentuk sendiri, yakni, 'Mindset Variabel Kolektif' atau pola pikir dengan mengumpulkan berbagai variabel atau faktor. Mindset ini tidak berkutat pada satu variabel atau faktor saja, melainkan lebih dari satu, puluhan, ratusan, atau bahkan jutaan.
Dalam susunan judul saja, variabel X tidak bisa berdiri sendiri tanpa variabel lain. Untuk merumuskan sebuah pengaruh terhadap variabel Y, variabel X harus muncul lebih dari satu. Tidak hanya itu, pada bab hasil atau lebih tepatnya perhitungan Adjusted Square, variabel selain dari variabel yang ditampilkan pun diperhitungkan andilnya.
Pola pikir variabel kolektif sangat menentang pengkotak-kotakan faktor. Mencapai sebuah tujuan harus ditunjang oleh beberapa faktor. Semakin banyak faktor yang dapat mempengaruhi, semakin besar pula potensi keberhasilan yang akan didapat.
Apabila anda benar-benar ingin sukses, bekerja keras merupakan sebuah kewajiban namun bukan satu-satunya faktor. Misal faktor lain adalah networking, support system, orang tua, kapasitas pengetahuan dll. Sekali lagi, semakin anda memperlebar atau menguasai variabel lain, kemungkinan besar anda akan segera mencapai tujuan.
Mohon maaf, mengapa kuli bangunan belum bisa dibilang sukses, sebab dia hanya mengandalkan satu variabel saja. Begitu juga dengan sektor pekerjaan lainnya.
Oleh karena itu, mulailah mencoba banyak hal, sebagai bentuk pemenuhan variabel kolektif. Anda tidak harus memisahkan kerja keras dengan kerja cerdas. Gunakanlah keduanya. Selain hal-hal yang teknis, perkara non teknis pun menjadi bagian dari variabel yang harus dikumpulkan. Bayangkan saja, ada orang yang kerja keras setiap hari, tapi lupa mandi. Kesuksesan mungkin datang, tapi teman-teman kabur duluan. Disini akhirnya kita memahami, bahwa selain kerja keras, jaga aroma juga penting!
0 Response to "VARIABEL KOLEKTIF "
Post a Comment