MENEMUKAN DIRIMU DALAM DIRIKU
Agak tidak masuk akal, jika memaksamu untuk menerima legitimasi diriku. Bukankah amandemen dalam sistem kenegaraan demokrasi mengatakan bahwa setiap individu memliki kebebasan dalam memilih. Jika aku memaksakan sebuah harapan naif padamu, sama saja aku sedang menjajahmu.
Kesenjangan hati di mulai
dari situ. Aku menganggapmu ‘orang lain’ saja adalah sebuah kesalahan fatal. Nyatanya,
engkau selalu berpaling. Di katakan, setiap tatapan akan menunjang perasaan. Inilah
bencana. Tatapanmu candu.
Kesimpulan dari berbagai
probabilitas tersebut tak akan di temukan, kecuali menggunakan metode
kontemplasi. Dengan merenung, tak di sangka, aku menemukan dirimu dalam diriku.
Aku tak hanya menemukan tuhanku, imanku, daya nalarku, intuitfku. Di sela-sela
penemuan itu semua, sekali lagi, aku menemukanmu dalam diriku.
Imaji tentangmu terasa lebih
leluasa dari pada memandangmu. Aku bisa bebas tanpa hambatan apapun. Bayangkan,
dalam sekejap, aku mampu merumuskan skenario yang indah dan memihak bahwa tak
ada penolakan secara mutlak darimu. Aku bisa menjamin, bahwa menemukan dirimu
dalam diriku adalah penemuan yang luar biasa
Namun yang menjadi
permasalahan dasar dari konstruksi gagasan ini, apakah diriku dikau temukan
dalam dirimu?
0 Response to "MENEMUKAN DIRIMU DALAM DIRIKU"
Post a Comment