MEMBANGUN PERADABAN BANGSA DENGAN MAQASHIDU SYARIAH
Kita, individu dari sekian juta yang tergabung dalam citizen atau kewarganegaraan Indonesia sudah seyogyanya turut andil dalam membangun negeri ini. Dari sudut pandang iman misal, slogan nasional yang kita dengar dengan buntu, "Hubbul Wathan min Al Iman". Cinta tanah air, turut andil pada negara, memiliki peran penting pada bangsa itu termasuk giat-giat iman. Atau dari sudut pandang Kenegaraan misalnya, kita tidak hanya dituntut memberikan sumbangsi yang berarti pada negeri ini, lantaran jasa-jasa yang sudah dikerahkan oleh pahlawan-pahlawan terdahulu. Tidak hanya daya intelektual, tapi juga harta hingga nyawa mereka kerahkan untuk merebut harga diri bangsa ini pada masa penjajah dulu.
Maka kita sepakat, mau dilihat dari manapun, membangun peradaban suatu bangsa merupakan keharusan bagi setiap individu kewarganegaraannya. Tapi arah apa yang mau di majukan? Banyak aspek, bisa dibidang kebudayaan, kemajuan moral dan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan lain sebagainya.
Lalu bagaimana caranya?
Maqasidu Syariah sudah memiliki panduan tersendiri dalam konteks ini. Yap benar, anda tidak salah membaca, agama dalam hal ini Maqasidu Syariah mempunyai panduan dalam menopang kemajuan perdaban dari suatu bangsa. Opo gak keren islam iki, beeeehh.
Di dalam At-ta'rif Bimaqashidu Asyari'ah karya Dr. Namrun Ahmad Sayyid Musthofa yang tertuang dalam bab Cara Merealisasikan Harkat Martabat Suatu Bangsa (سبل تحقيق هيبة الأمة اليوم), disebutkan bahwa terdapat tiga komponen dalam membangun peradaban bangsa:
Pertama, Persatuan umat muslim (الوحدة بين المسلمين). Adapun hal ini bertujuan untuk menumbuhkan keselarasan, saling menjaga, serta keharmonisan. Sebab umat muslim senantiasa saling menjaga satu sama lain pertolongan allah melalui persatuan, gotong royong dalam kebajikan. Kenapa persatuan ini penting, sebab agama kita sama/satu (islam), Tuhan kita satu, Qiblat kita satu, Qur'an kita satu, musuh kita satu. Lantas mengapa umat muslim tidak bersatu padu padahal kesemua fundamental dalam agama tadi hakikatnya sama?
Jika ditarik lebih luas lagi, bahwasannya tanah air kita satu tanah air Indonesia, beridielogi satu idielogi Pancasila, berkonstitusi satu UUD 45, berkebudayaan satu kebudayaan Bhineka Tunggal Ika. Pada akhirnya, persatuan secara global ini memiliki dampak yang sama dengan orientasi dari konsep Maqasidu Syariah, yakni menata sistem masyarakat dan mengokohkan masyarakat itu sendiri. Jika sudah seperti ini, umat akan berpendirian kuat dan tak mudah terombang-ambing
Kedua, Kemajuan Ilmu Pengetahuan (التقدم العلمى). Bahwa kriteria dari suatu bangsa yang ingin eksis dan berwibawa di kancah internasional ialah dengan pengetahuan (knowledge). Lihat bangsa-bangsa dengan predikat adigdya, mereka pasti mengedapankan pengetahuan dan wawasan. Karena denganya suatu bangsa akan berkembang dari berbagai sektor seperti teknologi, perhutanan, alam raya, perikanan, pertambangan, keuangan dan lain sebagainya, dan yang lebih penting lagi, pengetahuan akan mensejahterakan masyarakat, sebab mereka mampu memanfaatkan Sumber Daya Alam yang dapat dipergunakan sebagai komoditas, baik untuk produksi atau kebutuhan sehari-hari.
Saking pentingnya kemajuan pengetahuan, Mualif sampai berandai-andai, kenapa negara bagian arab yang mayoritas umat islam tidak menampakkan pengetahuan kepada dunia supaya citra islam tidak dipandang buruk sebagai agama perang. Naudzubillah. Maka jika ada narasi yang menjealaskan bahwa bangsa yang mau berkembang secara masif adalah dengan perluasan wilayah atau invasi dengan cara perang, itu sangatlah salah. Lihat fenomena Palestina dan Israel, apakah terlihat perkembangan suatu peradaban bangsa? Justru yang terlihat hanyalah kemunduran dan kejumudan.
Ambillah contoh era keemasan islam dulu kala. Di mana islam benar-benar mengedepankan pengetahuan dari segala bidang. Konon, terdapat ratusan ribu buku di perpustakaan Bayt Al-Hikmah dengan disiplin ilmu yang berbeda-beda. Hal ini menunjukan betapa islam sangat menghargai pengetahuan dikala itu. Fun Fact, di saat islam lagi jaya-jayanya, Eropa justru mengalami era kegelapan, yang mana di indikasi monopolisasi pihak gereja terhadap ilmuan-ilmuan. Jika anda mengenal Galileo Galilei, dia adalah korban monopolisasi yang mengakibatkan dia divonis mati.
Yap begitulah, betapa berbanding terbaliknya sekarang, kenapa malah eropa yang justru maju sedangkan negara-negara islam tidak maju. Jelas jawabannya ada pada pihak yang memajukan pengetahuan
Ketiga, Berkepribadian Mandiri (الشخصية المستقلة). Bangsa yang agung, besar, adigdaya pasti memiliki karakter dan ciri khas tersendiri serta berbeda dari lainnya. Kalau anda melihat bangsa-bangsa besar pasti memiliki jati dirinya masing-masing. Tak perlu jauh-jauh, lihat negara kita sendiri. Indonesia memiliki dasar buadaya yang berbeda-beda dan dengan ciri khasnya masing-masing sesuai daerah. Tradisi, seni, makanan, pakaian adat, rumah adat, bahasa setiap provinsi berbeda-beda. Justru hal seperti ini musti kita jaga. Bukan malah menyukai budaya-budaya luar. Duh! Ironisnya, di kalangan anak muda sekarang justru budaya-budaya orang luar dianggap kerenlah, edgylah, gaullah. Kalau masih kejawen misalnya itu di anggap kuno, norak, tidak mengikuti zaman. Sedih ya.
Apa dampak fenomena rapuh seperti ini? Muallif melanjutkan bahwa bangsa yang lemah ialah bangsa yang meniru kebudayaan atau ciri khas bangsa lain secara membabi buta. Door. Siapa bilang pelajaran kebudayaan gak penting, siapa bilang pelajaran bahasa daerah gak penting. Percuma kalau anak zaman sekarang di cekoki isu atau wacana global tapi tata krama sesuai daerah masih di anggap keterbalakangan, Dus!
Dari tiga komponen yang sudah ditawarkan oleh Muallif di dalam kitabnya, mari kita umat islam berbondong-bondong membangun peradaban bangsa secara intens. Gak usah ragu kok, lawong agama aja nyuport. Toh, kesemuanya ini sudah ditopang dengan dali-dalil shorih. Non-muslim pun dapat menggunakan komponen ini. Nggak perlu nunggu presidennya siapa, gubernurnya siapa lurahnya siapa, dengan penerapan Maqasidu Syariah secara komprehesif kita tidak hanya menjaga agama saja, kita bahkan membangun serta mamjukan peradaban suatu bangsa. Kalau kata pribahasa, "Sekali mendayung, dua pulau terlewati". Keren ya kalau dipikir-pikir.
0 Response to "MEMBANGUN PERADABAN BANGSA DENGAN MAQASHIDU SYARIAH "
Post a Comment