MAHASISWA YANG MENSUCIKAN NAJIS

Dalam jenjang pendidikan dunia, termasuk Indonesia, kuliah merupakan jenjang penididikan tertinggi. Dan para pelakunya di sebut mahasiswa atau bisa di katakan “si paling berpendidikan”. Bahkan dari diksinya saja sudah menyiratkan bahwa para pelakunya telah mencapai paripurna. Uniknya, jenjang ini rupanya di idam-idamkan oleh jenjang-jenjang di bawahnya. Banyak indikasi ungkapan itu muncul. Salah satunya, kuliah itu seru, punya banyak teman, bisa berorganisasi dengan bebas. Mahasiswa memiliki citra ‘Sang penegak keadilan’ yang mau turun ke jalan dan menyuarakan suara rakyat yang mana menjadikannya ketertarikan tersendiri. Bahkan hanya kuliah yang mendapati suatu momen sakral, seperti pertemuan kekaisaran Romawi dulu yang di laksanakan di Colosseum pada waktu itu, yakni Sidang Skripsi. Saya termasuk bagian itu semua. *merasa keren.

Gambaran para siswa yang akan menempuh jenjang perkuliahan sudah terbentuk bahwa jenjang ini begitu ikonik. Karenanya banyak siswa yang berlomba-lomba masuk ke universitas-universitas ternama.

Potret “si paling berpindidikan” memang selalu menarik.

Namun pernah suatu hari, tepatnya di pelataran pesatren kampus saya, ada beberapa bercak darah di lantai peterasan. Tiba-tiba ada teman yang berinisiatif mengepelnya guna menghilangkan bercak darah tersebut. Beruntung ada teman saya yang mengingatkan, ‘BAHWA MENGHILANGANKAN NAJIS BUKAN SEPERTI ITU’. Teman saya yang mengingatkan tadi mengambil beberapa lembar tisu dan satu ember. Pertama, ia mengerok darah yang sudah mengering. Kedua mencelupkan beberapa tisu kedalam ember tadi, kemudian menggosok bekas darah sekira warna, bau, rasa (kalau ini sih opsi paling belakang) hilang. Ini adalah prosedur ازالة النجاسة (menghilangkan najis) yang menjadi tradisi di setiap pesantren. Karena darah yang tampak (عينية) tersebut,  langkah pertama harus di hilangkan tampilannya terlebih dahulu, lalu di sucikan.

Saya membantu teman saya saat mensucikan dan najis dan berceletuk, “Mahasiswa yang bisa menyucikan najis itu keren!!!”. Sontak teman saya tertawa. Namun tidak sampai dari situ, celetukan saya terus dia ulang-ulang bahwa mahasiswa yang bisa, atau sekedar paham tata cara mensucikan najis itu betul-betul keren.

Pembahasan Thoharah selalu di ulang-ulang pada
bagian pertama hampir di semua kitab fiqh

Dalam literatur fiqh (ibadah praktis), bahwasannya thoharoh, khususunya izalatun najasah itu terletak pada bagian awal. Hampir seluruh jajaran kitab fiqh, mulai dari kitab yang di kaji mubatadi’, sampai kitab yang di jadikan rujukan saat Bahtsul Masail, thoharoh menempati posisi awal. Dan baru kali ini, saya sadar, bahwa thoharoh, khususunya izalatun najasah terdapat pada bagian awal bukan karena hal itu mudah atau sebagainya, melainkan hal tersebut sangatlah krusial dalam pribadatan. Sebab peletakan pertama dalam peribadatan umat muslim selain bergama islam dan berakal tentunya, adalah suci-bersuci (dalam konteksi ini izalatun najasah).

Nah, bagi saya pribadi, mahasiswa yang lugas dan luwes ketika mensucikan najis itu jauh lebih keren daripada pandangan umum yang sudah saya paparkan sebelumnya terhadap mahasiswa. Lebih keren dari mahasiswa yang piawai membuat artikel ilmiah/jurnal. Lebih keren dari mahasiswa yang lantang berorasi.

Shofi Mustajibullah Saya Shofi Mustajibullah lulusan SDN Dipenogoro Gondanglegi, SMPN 01 MOJO, SMAN 01 MOJO, PONPOES Al-falah. Saat ini masih mengenyam pendidikan di Universitas Islam Malang dan Pondok Pesantren Kampus Ainul Yaqin

Related Posts

0 Response to "MAHASISWA YANG MENSUCIKAN NAJIS"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel