BELAJAR MENIKMATI HIDUP DARI PESANTREN
Di dalam peradaban pesantren, kental sekali istilah riyadhoh yang di sebut tirakat. Semua pesantren selalu dan pasti mehamai akan hal itu. Bahkan ada beberapa pesantren yang memang di situ di khususkan untuk konsisten dalam menjalani beberapa riyadhoh/tirakat tertentu. Banyak sekali jenis dari tirakat dan tidak pasti seperti apa itu tirakat. Secara umum, implementasi tirakat yang sering di aplikasikan santri adalah puasa (baik sunnah maupun dawud). Yang jelas, sesuatu apapun jika itu di niati tirakat serta lillahi ta’ala, sudah bisa di katakan sebuah tirakat.
Namun, apakah tirakat
sebuah penyiksaan? Mungkin ada beberapa orang berpendapat seperti itu.
Menganggap pesantren sebagai ‘penjara suci’ dan perumpamaan lainnya. Lalu,
apakah pesantren sebuah tempat penyiksaan? Atau orang non-pesantren bilang, “tempat
yang tidak bertanggung jawab atas kelanjutan hidup santri-santrinya?
Jawabannya jelas bukan. Hidup
bukan melulu tentang bersenang-senang, selalu ingin memuaskan hasrat tubuh,
mengejar kesenangan dengan anggapan merupakan kebaikan tertinggi. Bukan seperti
itu kebaikan tertinggi. Dalam menanggapi hal ini, filsuf asal Yunani Plato
memaparkan beberapa poin: (1) Kesenangan bukanlah kebaikan tertinggi bagi
manusia. (2) Apabila Anda memburu kenikmatan sebagai kebaikan tertinggi,
sebagai akhir moral Anda, itu akan menghancurkan Anda.
Lanjutnya, kebaikan
tertinggi bagi apa pun, manusia atau bukan manusia, ialah untuk memenuhi
kodratnya sendiri. Seperti apa kodratnya manusia? kodrat manusia adalah Ibadah
kepada Allah. Di sisi lain, menurut Imam Ghozali di dalam kitabnya Minhajul
Abidin ada empat perkara yang menghambat seseorang bertaubat, salah satunya
ialah nafsu. Cara untuk mengendalikan nafsu agar seseorang bisa mencapai Aqabah
Taubat adalah dengan riyadhoh/tirakat.
Di pesantren, semua
santri di gembleng untuk bersedia bahkan di paksa beriyadho/tirakat. La budda.
Supaya mereka bisa mencapai kodratnya sebagai manusia sekaligus mencapai
kebaikan tertinggi dan bisa menikmati alur waktu kehidupan.
Roman ragawi, Seperti raga itu sendiri, adalah
pinjaman, jangan tetapkan hatimu terarah pada mereka, karena mereka hilang
hanya dalam satu jam. Carilah roman ruh itu yang bertempat di atas langit. (Maulana
Jalaluddin Ar-Rumi)
Wallahu a’alamu bisshoab
0 Response to "BELAJAR MENIKMATI HIDUP DARI PESANTREN"
Post a Comment