DILEMA KEMUDAHAN AKSES KONTEN/INFORMASI

Sebuah peradaban teknologi lahir ditandai dengan disrupsi atau masifnya penyebaran konten/informasi. Dahulu, untuk mendapatkan wawasan, informasi, konten, relasi, pemgetahuan hanya dapat diakses dan didapatkan di tempat tertentu dan oleh kalangan terbatas. Sekarang, anak belum baligh pun bisa mendapatkan informasi/konten yang dikonsumis oleh orang dewasa dengan mudah. Namun, kemudahan dalam mengakses informasi atau konten menjadi pisau bermata dua. Bisa menjadi buruk dan bisa sangat bernilai. Hal ini yang menimbulkan sebuah dilema atas mudahnya dalam mendapatkan serta mengonsumsi sebuah konten.

Dewasa ini, sesuatu yang paling mahal sebenarnya bukan properti, aset langka, produk branded, melainkan informasi atau bisa dakatakan pengetahuan dan data. Mengapa? sebab informasi saat ini memberikan imbal balik berkali-kali lipat daripada semua aset fisik yang ada. Sederhananya, dengan kita mendapatkan informasi mengenai perusahaan dengan valuasi murah namun berpotensi berkembang (growth) kedepannya, kita jadi bisa mengambil keputusan untuk berinvestasi di sana. Sehingga imbal balik dari informasi yang didapat menjadi sepadan dengan modal yang dikeluarkan, bahkan lebih. Proses ini dinamakan return on Investment (ROI). Lazimnya, semakin mahal sebuah informasi, semakin besar pula imbal balik yang didapatkan.

Akan tetapi, informasi atau konten yang beredar berhamburan tak karuan. Ada informasi yang benar-benar bermanfaat, bahkan informasi yang sangat buruk. Dan naasnya, semua kalangan bisa mengakses keduanya. Lebih parahnya lagi, identifikasi informasi/konten mendadak menjadi bias lantaran bercampur aduknya informasi. Memang, mendapatkan informasi penting akan memberikan imbal balik yang besar. Lantas bagaimana jika mengakses informasi yang buruk. Informasi tentang kebencian, pornografi, kriminalisasi dan lain-lain? Ya, mengakses informasi/konten buruk setara dengan informasi baik, memberikan suatu hasil. Tapi hasil yang buruk.

Sangat disayangkan jika berkembangnya peradaban ini tidak berbanding lurus dengan kualitas moral umat manusia. Bayangkan, anak yang baru menginjak umur dua puluhan, yang harusnya mulai meniti karir, sekarang sudah bisa merencanakan pembunuhan sampai memperkosa. Tentu tindakan mereka dilandasi pada pola kehidupan sehari-hari. Yang jika diuraikan, kehidupan sehari-harinya adalah mengkonsumsi informasi/konten bias.

Karena hal itu, kemudahan akses informasi harus didasari pada kemampuan literasi digital. Mudahnya, diambil dari kata literasi, seseorang harus kritis dalam mengakses informasi/konten digital. kemampuan dalam mengkritisi ini akan mengarahkan seseorang dalam merespon informasi yang seharusnya dikonsumsi dan mana yang tidak boleh dikonsumsi. Harusnya umat manusia takut, ketika ada satu masa, kemampuan literasi digital tidak dimiliki kebanyakan orang, kemudian trend informasi/konten yang sedang naik adalah hal-hal berkaitan pembunuhan, pelecehan, pemerkosaan, pembullian, betapa chaosnya konstruksi sosial yang ada

Shofi Mustajibullah Saya Shofi Mustajibullah lulusan SDN Dipenogoro Gondanglegi, SMPN 01 MOJO, SMAN 01 MOJO, PONPOES Al-falah. Saat ini masih mengenyam pendidikan di Universitas Islam Malang dan Pondok Pesantren Kampus Ainul Yaqin

0 Response to "DILEMA KEMUDAHAN AKSES KONTEN/INFORMASI"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel