Lantas Apa Perbedaan Adab atau Etika dengan Feodalisme
Salah satu kritikus politik ternama Indonesia, Rocky gerung sring sekali mengaitkan tindakan sopan santun dalam ranah politik transaksional termasuk dari tindakan feodalisme. Lebih-lebih dalam ranah perdebatan, rocky sangat menolak adanya penekanan sopan santun.
Tentu, saya yang dulu pernah mengenyam pendidikan di pesantren Al-Falah Ploso cukup tersinggung saat mendengar perkataan rocky. lebih-lebih Islam sangat serius menekankan akhlak. Bahkan Nabi saja diutus untuk membenahi akhlak dan etika umat manusia.
Untuk itu, kita bedah terlebih dahulu. Benarkah yang dikatakan rocky gerung, bahwa sopan santun merujuk pada feodalisme.
Dewasa ini, kesadaran kesetaraan merupakan cita-cita umat manusia. Tidak ada golongan bahkan ras yang lebih baik dari satu sama lain. Jika muncul pernyatan tersebut, akan menjadi perdebatan yang sensitif.
Feodalisme adalah kebalikannya. Kata yang biasa digunakan dalam ranah akademis adalah egaliter atau setara. Sedangkan feodal tidak setara atau bersenjang. Sistem feodal masih diakui saat era kerajaan, dimana ada raja beserta keluarga dan ada masyarakat biasa yang menjadi budak.
Lalu, setelah terjadi revolusi prancis, sistem feodal sangat ditentang oleh masyarakat dunia. Ditambah, saat ini semua orang memiliki kesetaraan dalam mengakses informasi, misalnya melalui media digital, sehingga kekuatan egaliter semakin mengakar bagi masyarakat dunia.
Kembali ke pembahasan utama, benarkah sopan santun adalah feodal? Perlu diketahui, ini pendapat saya pribadi. Tentu, berbeda. Sopan santun bukan berarti feodal. Mengapa seorang rocky mempermasalahkan, karena kata kuncinya, sopan santun sering dijadikan alasan dari pemenuhan hak. Sederhananya, sopan santun menjadi feodal sebab hak-hak yang enggan diberikan bahkan dirampas. Tidak usah jauh-jauh pada politik, misalnya kita mengantari pada satu minimarket. Tetiba ada lansia mendahului runtutan antrian. Saat kita menegurnya, dia mengelak dengan landasan yang mudah harus menghormati. Jadi ada unsur hirarkis. Sederhananya, sebuah tindakan menjadi feodal ketika hak direnggat dan dicegah dengan dalih persoalan hirarkis.
Jadi, alasan kenapa sopan santun ikut terseret dalam ruang lingkup feodal karena memang sopan santun berkaitan dengan hirarkis pula. Seorang anak menghormati orang tuanya, seorang murid menghormati gurunya, atau seorang junior menghormati seniornya. Nah, hirarkis ini ketika bagian bawah direnggut haknya oleh bagian atas. Lazimnya dalam ranah politik, pejabat mengambil hak rakyatnya.
Sayangnya, modus tindak feodalisme tetap ada pada proses beretika dan bersopan santun. Kelompok hirarkis atas menuntut hirarki bawah untuk menghormati dan tidak lancang. Mau bagaimanapun, fenomena ini tetap masuk pada tindakan feodalisme. Sebab pada dasarnya, hirarki atau kasta tidaklah ada. Tidak ditentukan oleh ras tertentu, darah tertentu, atau negara tertentu. Semua setara dalam kemanusiaan. Sopan santun tanpa ada unsur feodal ketika hirarki bagian bawah dengan sadar menghormati hirarki atas. Tanpa ada intervensi apapun. Sebab etika dan sopan santun murni berasal dari nurani
Terakhir, argumentasi ini sebatas opini, belum diuji oleh pakar. Tapi setidaknya menjadi gambaran pembeda atas biasnya feodalisme dengan sopan santun. Tindakan feodal terjadi saat kelompok hirarki tertentu mengambil atau mencegah hirarki yang lain, pun dengan dasar sopan santun. Sedangkan sopan santun itu bisa tanpa unsur feodal saat hirarki tertentu secara sadar menghormati hirarki lain tanpa intervensi dan tekanan.
0 Response to "Lantas Apa Perbedaan Adab atau Etika dengan Feodalisme"
Post a Comment