IRONIS PENDALAMAN FINANSIAL LITERASI

Kita semua pasti sepakat, bahwa dalam pemenuhan kebutuhan hidup, baik jangka pendek maupun jangka panjang, harus didasari oleh ilmu. Semua bidang dan aspek kehidupan pada dasarnya didasari ilmu. Keberlangsungan hidup yang ditenagai oleh energi listrik misalnya, itu hasil dari pergulatan ilmu. Pun demikian dalam persoalan keuangan.

Ilmu memahami cara kerja keuangan dikenal dengan financial literacy. Sebuha konsep pengetahuan yang berkaitan dengan proses mendapatkan, mengelola, bertransaksi dengan sumber daya keuangan yang dimiliki.

Lazimnya, untuk progres dari suatu bidang agar terus bertransformasi, ilmu yang mendasarinya perlu didalami. Bisa melalui penelitian empiris maupun berdasarkan data. Dunia medis pada zaman dahulu sering dikaitkan dengan pemahaman tradisi dan mitos yang beredar. Namun karena pendalam pengetahuan medis yang terus berkembang, diagnosa penyakit didasarkan pada obervasi oleh ahli.

Berdasarkan format peningkatan dari suatu bidang, dalam keuangan kiranya untuk mendapatkan kesejahteraan keuangan harus ditingkatkan pula pendalaman atas literasi keuangan. Sayangnya, fakta lapangan tidak menunjukkan demikian. 

Penelitian yang dilakukan  Buchtová dan Dare (2025) justru menunjukkan ironi dari pendalaman literasi keuangan. Kedua peneliti tersebut memiliki temuan, bahwasannya individu memiliki pemahaman yang terlalu mendalam terhadap literasi keuangan, justru membuatnya tidak sejahtra dari aspek keuangan. Alasannya simpel, karena pemahamannya justru memberikan kesadaran akan kondisi keuangannya sendiri. Dan dia sadar, bahwa kondisi keuangannya tidak ideal.

Tentu, bukan berarti literasi keuangan tidak penting loh ya. Karena teori tetap menjadi pondasi dalam menganalisa dan mengambil keputusan. Seyogyanya, perlu ditambah variabel lain yang mampu meredam kecemasan financial akibat kesadaran atas ketidakidealan kondisi keuangan pribadi. Variabel-variabel tersebut adalah sikap positif, perilaku nyata (act), dan pengalaman dalam bertransaksi di produk keuangan.

Alhasil, cara untuk mengantisipasi kecemasan finansial berlebih akibat pemahaman mendalam atas literasi keuangan dapat diredam dengan pandangan positif tentang kondisi keuangan kita. Kemudian berperilaku nyata dengan displin dalam mengelola uang, seperti halnya rutin dalam menganggarkan, dan terus meningkatkan konsistensi dalam bertransaksi dengan produk-produk keuangan yang tersedia. Dengan menerapkan cara ini, setidaknya teori yang menumpuk di kepala kita bisa encer hanya dengan aksi nyata.
Shofi Mustajibullah Saya Shofi Mustajibullah lulusan SDN Dipenogoro Gondanglegi, SMPN 01 MOJO, SMAN 01 MOJO, PONPOES Al-falah. Saat ini masih mengenyam pendidikan di Universitas Islam Malang dan Pondok Pesantren Kampus Ainul Yaqin

0 Response to "IRONIS PENDALAMAN FINANSIAL LITERASI"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel