INI ALASAN ORANG INDONESIA TETAP MISKIN

Bayangkan, Indonesia merupakan negara yang mampu menghasilkan sumber daya alam (SDA) dengan berbagai variasi, sehingga menjadikan Indonesia sebagai pemain global. Fakta bahwa penjualan SDA yang melimpah di kancah dunia, tidak merubah kenyataan bahwa jutaan rakyat Indonesia masih dalam status kemiskinan.

Tentu, kita akan mengirim alasan Indonesia miskin karena bobroknya sistem nasional dalam mendistribusikan kekayaan. Itu adalah satu hal, namun ada hal lain yang lebih fundamental, terlebih masih dalam kendali semua orang. Hal itu adalah sudut pandang kekayaan.

Dalam memandang sebuah kekayaan, manusia memiliki persepsi yang berbeda-beda. Perbedaan ini terjadi lantaran dari perbedaan latar belakang, wawasan, informasi, pengetahuan, konsepsi dan faktor lainnya.

Kebanyakan masyarakat kita, baik kota maupun desa, memandang kekayaan dengan mengaitkan barang-barang yang menyimbolkan tingkat kekayaan seseorang. Padahal barang itu nilainya tidak bertambah, melainkan berkurang

Dalam menceritakan orang lain, karena kurangnya wawasan keuangan tentunya, sering sekali mengasumsikan orang lain yang memiliki mobil, smartphone, dianggap sebagai orang kaya. Sejujurnya, semua itu justru termasuk dalam liabilitas di laporan keuangan yang mengalami depresiasi.

Barang-barang yang terkesan sebagai simbol kekayaan sepanjang tahun harganya pasti turun. Kebanyakan mobil dan smartphone setiap tahun pasti turun. Dengan menimbunnya, tindakan ini justru berdampak kerugian. Sayangnya, banyak orang miskin justru melakukan hal ini. Ironis memang, justru masyarakat miskin cenderung konsumtif. Pantas saja tahun ketahun masih miskin. Pandangan inilah yang menjadi sebagian besar orang Indonesia tetap miskin.

Alhasil pandangan kekayaan yang berdasarkan pada barang-barang yang menyimbolkan kekayaan, harus benar-benar diganti. Lantas diganti dengan pandangan seperti apa? Ubahlah pandangan bahwa kekayaan berdasarkan pada kepemilikan aset yang produktif, yang menghasilkan imbal hasil.

Sederhananya begini, sebuah kekayaan harus dikaitkan pada aset-aset seperti produk-produk keuangan, saham, kripto, properti, kepemilikan bisnis dan lain-lain. Semua aset ini bertumbuh dan memiliki imbal hasil yang signifikan. Sehingga, dengan mengubah pandangan terhadap kekayaan, sumber daya finansial yang dimiliki, bisa dimaksimalkan untuk mendapatkan aset-aset tertentu sesuai siklusnya.

Saat memiliki sekian uang, tidak dibelikan mobil, smartphone, pakaian. Tapi uang yang dimiliki digunakan untuk membeli produk keuangan, membeli sekian juta lembar saham, membeli beberapa koin crypto yang produktif, memberikan modal pada start-up (private equity). Akhirnya, uang yang kita miliki bekerja untuk kita, seperti yang tercantum di dalam The Richest Man In Babylonia.

Tidak hanya produk-produk keuangan tertentu. Mengubah pandangan terhadap kekayaan juga mencakup menukar waktu dengan aktivitas yang memberikan imbal hasil. Waktu luang digunakan untuk mencari kerja, apapun itu. Uang yang didapat kemudian dialokasikan pada aset-aset yang berkembang. Bukan dengan membeli roko, minuman keras, atau untuk kepuasan seksual.

Kita semua pasti berharap agar saudara-saudara kita bisa lepas dari kemiskinan. Namun hal itu tidak mudah. Perjalanannya dimulai dari mengubah sudut pandang. Pola konsumtif diubah menjadi pola hidup yang memberikan imbal hasil. 

Tidak gampang memang, tapi setidaknya, secara perlahan dan konsisten akan terlepas dari jeratan kemiskinan. Bayangkan, jika secara kolektif masyarakat miskin Indonesia mengubah sudut pandangnya terhadap kekayaan, sudah tentu persentase kemiskinan akan menurun tanpa perlu menunggu bantuan sosial pemerintah, yang kadang tidak merata!


Shofi Mustajibullah Saya Shofi Mustajibullah lulusan SDN Dipenogoro Gondanglegi, SMPN 01 MOJO, SMAN 01 MOJO, PONPOES Al-falah. Saat ini masih mengenyam pendidikan di Universitas Islam Malang dan Pondok Pesantren Kampus Ainul Yaqin

0 Response to "INI ALASAN ORANG INDONESIA TETAP MISKIN"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel