MELAWAN WAWASAN SUBJEKTIF YANG MEMBUDAYA DENGAN WAWASAN ILMIAHYANG OBJEKTIF
Bagi kalangan masyarakat, saat seorang laki laki sudah menikah kemudian lingkar perutnya membesar atau buncit, merupakan hal yang wajar. Bahkan persoalan ini membudaya sehingga terkadang menjadi bahan lelucon. Seorang laki laki yang sebelum menikah tampilan berat badannya bisa dibilang kurus, setelah menikah justru membekak. Fenomena ini, penulis sebut dengan wawasan yang membudaya.
Banyak sekali sebenarnya wawasan yang sudah membudaya melekat di benak masyarakat. Misalnya, ketika orang sudah memiliki harta berlebih, dia akamn pelit, serakah, rakus dan sebagainya. Wawasan subjektif yang membudaya kurang lebih persis dengan stereotipe sosial.
Jika dikaji kembali, mayoritas wawasan subjektif yang membudaya tidak baik untuk dijadikan kepercayaan, komitmen, atau panudan mengambil keputusan. Misalnya, wawasan subjektif yang membudaya tentang laki laki seduah menikah memang patut jika tubuhnya melar. Padahal, dengan menggunakan sudut pandang ilmiah, tidak hanya laki-laki, seseorang dengan lingkar perut yang mekebar, teruatama berat badan melibih tinggi badan, berpotensi untuk obesitas. Saat seseorang sudah terjangkit obesitas, penyakit dalam tidak menular sangat mudah menjangkit berikutnya bagi pengidapnya.
Saat laki-laki yang sudah menikah, harusnya mengantisipasi saat perut dia melebar. Dia akan menjadi tulang punggung keluarga, pengambil keputusan dalam rumah tangga, serta menjadi sosok ayah bagi istri dan anak-anaknya. Bila wawasan subjektif membudaya tertanam, kemungkinan besar perut yang melar setelah menikah akan dianggap wajar dan menjadi lelucon. Tentu, seyogyanya kondisi ini harus diantisipasi. Jika seseorang menggunakan sudut pandang wawasan ilmiah yang objektif, perut membeka menjadi alarma untuk kemudian rajian melakukan olahraga kardio dan mengatur pola makan.
Memang tidak semua wawasan subjektif yang membudaya tidaklah buruk. Sayangnya, mayoritas merugikan. Oleh karena itu, butuh anti dote dari wawasan subjekti yang membudaya dan yang sudah mengerak di benak masyarakat. Obat itu adalah wawasan ilmiah yang objektif. Dengannya, hal-hal yang tidak masuk akal akan ditepis dan dibuang mentah-mentah. Tujuannya sederhana namung penting, yakni menjauhi kerugian yang berpotensi merugikan banyak orang. Sebab wawasan ilimia yang objektif merupakan ilmu pengetahuan yang sudah melewati ujin teori dengan empiris sehingga dapat memitigasi resiko
0 Response to "MELAWAN WAWASAN SUBJEKTIF YANG MEMBUDAYA DENGAN WAWASAN ILMIAHYANG OBJEKTIF "
Post a Comment