1984 = 2025 = etc.
Bayangkan, terdapat sebuah negara yang memiliki sistem untuk melanggengkan kekuasaan. Kekuasaan abadi. Ada poster pimpinan yang terus mengawasimu, telescreen namanya atau semacam layar yang mampu mengeluarkan suara ada di mana mana bahkan di sudut privasi sekalipun. Tak ada cinta, tak ada hasrat, tak ada ilmu pengetahuan, tak ada sains, tak ada kemerdekaan. Yang ada hanya, "Big Brother selalu mengawasimu!"
Itulah sebagian besar substansi dari cerita fiksi melegenda George Orwell bertajuk 1984 (ninety-eighty four). Dunia fiksi yang menggambarkan negara bernama Oceania, yang dipimpin rezim pemerintahan Big Brother. Dia adalah Hitler, dia adalah Stalin. Menggunakan atribut kekuasaan untuk memanipulasi realita serta konstruksi negara untuk kepatuhan abadi masyarakat terhadapnya.
Penghapusan sejarah lalu membuatnya baru setiap detiknya, menyusun bahasa baru lantas menghapus bahasa lama, memanipulasi data produksi bahan baku, ritual kebencian dua menit serta ancaman nyata dari "Polisi Pikiran" akan terus menambah ketegangan cerita. Semuanya bermuara pada wibawa dan kekuatan institusi pemerintah yang bernama "Partai dalam dan luar".
Winston Smith, merupakan karakter utama dari cerita ini. Ia digambarkan sebagai karakter yang muak, jengah, tak puas akan kondisi negaranya. Kebebasan direduksi sedemikian rupa, ruang bebas dibatasi tanpa henti, bahkan kebutuhan alamiah seperti seks dicegah. Manusia, di dalam novel itu, diposisikan sebagai aset yang beranak pinak, sampai mampu berkontribusi menguatkan posisi partai. Bahkan rekan Winston bernama Parson, bangga atas keterlibatan anaknya yang mengikuti mata-mata dan kelak menjebloskan Parson ayahnya sendiri ke penjara.
Nafas tak teratur, saraf tangan menggigil nyeri, nafas tersenggal-senggal, menjadi kondisi Winston setiap hari saat menulis buku harian. Setiap momen, dia mencatat pengalaman indrawi serta keinginan atas pemberontakan. Seluruh perenungannya terekam di dalam diary kecilnya. Dalam kondisinya itu, dia hanya menunggu waktu penangkapan untuk dirinya sendiri. Bagaimana tidak, dia adalah seorang pekerja Kementerian Kebenaran (salah satu kementrian dari pemerintah) yang di bawah naungan rezim pemerintah. Tentu, sangat riskan ketika dia terlalu memperlihatkan gelagat yang mencurigakan. Partai tidak mau rakyatnya memiliki kesadaran untuk melakukan sebuah tindakan yang tidak diperintahkan.
Terdapat beberapa karakter yang selalu disorot di cerita ini. Winston Smith sebagai karakter utama. Lalu Julia, seorang wanita pekerja di Kementerian Kasih yang kemudian menjalin cinta dalam waktu sekejap dengan Winston. Ada O'Brien salah satu karakter yang diceritakan sebagai figur penyelamat dengan tubuh gagah kekar, memancarkan aura takzim. Tapi percayalah, cerita ini penuh dengan plot twist. Pada bagian mana, setelah ini langsung membacanya. Saya tidak akan spoiler!
Pada intinya, cerita ini mengarah pada kepemimpinan otoriter Big Brother. Winston disimbolkan sebagai perlawanan atas penindasan dan kepatuhan mutlak. Winston selalu percaya bahwa 2 + 2 = 4. YA, pasti demikian.
Ya. Benar. Ketika partai menghendaki demikian, maka benarlah. Namun jika tidak? who knows.
Yang tak kalah menarik, karena ceritanya berlatar di London pada pertengahan abad ke - 19, terdapat bahasa rekayasa yang digunakan dalam sehari-hari, yaitu Newspeak. Bahasa ini merupakan pembaharuan dari Oldspeak atau bahasa lama. Tujuannya, untuk menghapus realita masa lalu dan menciptakan realita baru, tentu untuk memanipulasi masyarakat. Bahwa tidak ada peradaban maju selain Oceania.
Maha karya ini sangat-sangat rekomendasi untuk dibaca. Karena intisari cerita menyentuh kekuasaan politik yang gelojoh (rakus), ceritanya tetap relevan sepanjang masa. Walaupun sebenarnya cerita ini merepresentasikan kekuasaan Uni Soviet pada zamannya.
Namanya juga jabatan, kekuasaan, pemimpin pasti formatnya sama. Yaitu tamak. Pemerintahan yang tamak akan melakukan segala cara untuk memanipulasi rakyatnya untuk tetap patuh. Skenario terburuknya, seperti yang ada di bagian akhir cerita 1984, individu dari bagian masyarakat akan mencintai dengan sepenuh hati rezim yang otoriter, dan hasrat pemberontakan runtuh tanpa diwariskan ke generasi selanjutnya.
Terakhir, "Perang adalah Perdamaian", "Kebebasan adalah Perbudakan", "Ketidaktahuan adalah kekuatan".
.jpg)
0 Response to "1984 = 2025 = etc."
Post a Comment