The Richest Man In Ainul Yaqin

 Dalam satu bulan terakhir, saya sering membaca buku personal finance yang cukup beragam. Salah satu yang terbaik, buku dengan judul The Richest Man In Babilonia. Buku ini merupakan kumpulan dari esai bertemakan keuangan dan bisnis dengan latar Babilonia yang ditulis George S. Calso. Tulisan ini tidak bertujuan untuk meresisakan buku ini, hanya sekedar catatan bagi saya pribadi dengan mengganti larar tempat yang saat ini saya singgahi, yakni Pesantren Kampus Ainul Yaqin.

Menjai sejahtera, tentu dambaan semua orang. Tak terkecuali saya, seorang ustadz dari pesantren kampus. Orang seumuran saya, sudah memiliki pendapatan standar yang cukup untuk kebutuhan perbulannya. Namun karena saya hanya pengajar, bisa dibilang jauh dari standar upah pekerja. Alhamdulilahnya, tempat tinggal tidak menjadi tanggungan pribadi saya, yang oleh Robert Kiyosaki dalam Rich Dad Poor Dad disebut sebagai liabilitas (tanggungan).

Mendapatkan kesejahteraan adalah hak saya, walaupun seorang ustadz yang kebanyakan masyarakat dituntut untuk tidak menimbang gaji. Saya rasa, mereka melecehkan pendidikan. Pasalnya, penerimaan gaji berbanding lurus dengan kualitas pengajarnya. Ya sudahlah, saya tidak akan membahas itu. Intinya, kendatipun saya seorang ustadz, saya tetap mengelola pendapatan saya sebaik mungkin.

Dengan income yang ultra dibawah minimum, saya tetap menerapkan prinsip-prinsi ala orang terkaya di Babilonia. Berikut inti prinsip dari buku ini sesuai dengan kondisi keuangan saya:

1. Menyisihkan Dua keping emas dari sepuluh emas

Sudah lazim tentunya, bahwa upah seorang ustadz cukup minim. Tetapi sekali lagi, alhamdulillah upah pengajar pesantren di pesantren kampus terbilang lebih besar daripada pengajar lainnya. Selain dari upah mengajar, saya juga seorang kontributor media Nu terbesar, yakni NU Online. Saya pernah menghitup rata-rata pendapatan saya sebulan mencapai Rp. 1000.000.000. Nominal ini saya bulatkan, kadang lebih dan kadang kurang. Dengan menggunakan prinsip ini, saya menggunakan tujuh ratus ribu sebagai kebutuhan pokok dan dua ratus ribu sebagai dana darurat, tabungan, dan kadang investasi.

2. Menginvestasikan di Tempat yang Tepat


3. Mendapatkan Takdir yang Mujur Sebagai Seorang Ustadz


4. Tirakat, Sebagai Bentuk Meminimalisir Pengeluaran


5. Menghindari Utang Konsumtif

Shofi Mustajibullah Saya Shofi Mustajibullah lulusan SDN Dipenogoro Gondanglegi, SMPN 01 MOJO, SMAN 01 MOJO, PONPOES Al-falah. Saat ini masih mengenyam pendidikan di Universitas Islam Malang dan Pondok Pesantren Kampus Ainul Yaqin

0 Response to "The Richest Man In Ainul Yaqin"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel