Socrates dan Al-Ghazali

Kedua tokoh ini menjadi sentral dalam peradaban pengetahuan umat manusia. Socrates merupakan tokoh sentral dalam lahirnya filsafat yang kemudian di lanjutkan dua murid bijaksananya, yaitu Plato (Aflitun) dan Aristoteles (Aristo). Tokoh kedua bernama Al-Ghazali atau bernamakan lengkap Abu Hamid Al-Ghazali. Beliau bergelar Hujjatul Islam lantaran kepiawaian nya dalam ilmu agama serta luwes saat menyampaikannya (lihat Muraqal Ubudiyah/Syaikh Nawawi al-Bantani)


Keduanya sama-sama berkecimpung dalam diskursus filsafat. Socrates membangun pondasi filsafat dengan tanya jawabnya, kemudian Al-Ghazali mengkritisi filsafat Islam sehingga bersih dari kedustaan.


Namun di samping itu, ada kesamaan yang jarang orang ketahui dari mereka berdua. Socrates berkata, "Ketika engkau menikahi seorang wanita yang tidak cerewet maka engkau akan bahagia, namun jika engkau menikahi wanita cerewet engkau akan menjadi filosof". Berhimpitan sedikit, Imam Al-Ghazali pun berpendapat dalam Magnum Opusnya, Ihya' Ulumuddin yang berbunyi:


الصبر على لسان النساء مما يمتحن به الأولياء


"Sabar atas ucapan (cerewetnya) seorang istri akan mengantarkan seorang suami menjadi wali".


Sang filsuf agung, kebetulan ditakdirkan menikahi seorang istri yang cerewetnya minta ampun. Bahkan di ceritakan Socrates sering kali di siram air bekas cucian. Mungkin selain karena ketekunannya, sebab istrinya lah yang mengantarkan Socrates menjadi filsuf agung. Bayangkan jika istri Socrates so sweet, romantis, baru mengajar langsung di buatkan teh, kemungkinan besar dia tidak menjadi seorang filosof. Dampak nya Plato mungkin tidak di ajar oleh orang seperti Socrates, begitu juga Aristoteles. Xantipe, istri cerewet Socrates telah mendesainnya menjadi filsuf, maka kita harus berterimakasih padannya!


Kemudian pendapat Al-Ghazali. Siapa yang tidak ingin menjadi wali? Penisbatan terhadap hamba yang di sebut sebagai kekasih Allah. Tapi apakah semua orang betah beribadah satu hari satu malam dan begitu seterusnya. Hampir semua orang pasti menjawab tidak. Di sini Al-Ghazali memberikan alternatif untuk menjadi wali. Sederhana, yaitu sabar atas kecerewetan istri. Dawuh beliau bukan berarti utopia Lo ya, buktinya ada seorang syekh bernama Abdurrahman Bajalhaban menjadi wali lantaran cerewet istrinya. Tatkala istrinya meninggal, Allah angkat derajat kewaliannya.


 Selain memberikan alternatif, Al-Ghazali juga memberikan inspirasi bagi mereka yang kebetulan STI (suami takut Istri) berpotensi menjadi wali. Jadi bagi kerabat terdekat anda, yangmana istrinya cerewet, mintalah doa kepadanya, bisa jadi dia seorang wali agung!


Kesimpulannya, anda bisa memilih, harmonis atau filsuf dan wali. Hhmm berat tapi menarik sepertinya.


Entahlah, ini sebatas coretan ideal bagi seorang laki-laki yang belum mengalami pernikahan 🤭.


Wallahu A'lam

Shofi Mustajibullah Saya Shofi Mustajibullah lulusan SDN Dipenogoro Gondanglegi, SMPN 01 MOJO, SMAN 01 MOJO, PONPOES Al-falah. Saat ini masih mengenyam pendidikan di Universitas Islam Malang dan Pondok Pesantren Kampus Ainul Yaqin

Related Posts

0 Response to "Socrates dan Al-Ghazali"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel