Artificial Intelligence Sebentar Lagi Akan Menggila! Apa yang Harus Kita Persiapkan?

Banyak pakar yang mengatakan, artificial intelligence berkembang berkali-kali lipat lebih cepat daripada internet dulu. Perkembangan internet pada waktu itu masih dihambat oleh keterbatasan seperti pengetahuan, biaya, logistik dan hal-hal penting lainnya. Sedangkan di era sekarang, faktor-faktor yang mendukung percepatan artificial intelligence mudah untuk didapatkan. Bahkan, objek yang di kembangkan bisa belajar dengan sendiri. Gila!

Pada revolusi industri dulu, manusia menciptakan mesin berat yang tidak efektif dan efisien. Semakin berjalannya waktu, mesin yang menjadi katalis menjadi lebih efisien. Dan di era sekarang, artificial intelligence yang menjadi aktor revolusi industri tida hanya efisien, ia bisa bertindak dan berpikir tanpa intervensi manusia. Sekali lagi, gila!

Persinggungan kecerdasan buatan sudah bersinggungan secara intens dengan manusia. Siapa yang saat ini tidak menggunakan tools akal imitasi seperti Chat GPT atau Gemini. Tanyakan pada sepuluh orang siapa yang memakai akal imitasi. Anda mungkin butuh sepuluh orang lagi untuk menemukan satu orang yang tidak memakainya. Saking masifnya

Namun sayangnya, seperti barang-barang yang menciptakan candu, artificial intelligence berdampak pada perkembangan manusia itu sendiri. Dalam penelitian Hogberg (2025) perkembangan akal imitasi menjadikan manusia kehilangan makna. Manusia justru tidak memahami sifat kemanusiaan mereka sendiri. Akibatnya, umat manusia hidup sebagaimana mesin, sedangkan mesin hidup sebagaimana manusia. Ironis bukan. Lantas bagaimana dengan masa depan, yang mana akal imitasi berkembang lebih pesat.

Untuk mengantisipasi bias dalam pemaknaan kemanusiaan karena hubungan yang terlalu intens terhadap mesin, penelitian sebuah kerangka berpikir adaptif. Kerangka berpikir ini sebenarnya sederhana, bahwa sebagai manusia kita harus memahami, bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk yang adaptif. Baik adaptif terhadap dirinya sendiri maupun terhadap persoalan-persoalan eksternal.

Beratus-ratus juta tahun umat manusia menempati planet ini. Buktinya sampai sekarang kita masih menempati bumi. Bahkan penghuninya semakin banyak. Zaman  batu dikenal dengan era dimana umat manusia menciptakan alat-alat penunjang seperti untuk perburuan dari batu. Mereka melakukan hal demikian karena kapasitas adaptif, sehingga menciptakan inovasi yang mempermudah hidup mereka.

Praktis sama dengan era sekarang, manusia modern menciptakan akal imitasi untuk mempermudah kinerja di berbagai bidang. Sebagaimana manusia menciptakan kapak dari batu untuk mempermudah mereka dalam berburu. Karena itu, untuk mempersiapkan perkembangan akal imitasi yang berdampak pada bias pemaknaan terhadap kemanusiaan, kita sebagai manusia cukup menggunakan kerangka berpikir antisipatif. Kerangka berpikir tersebut adalah kesadaran bahwa manusia diciptakan dengan kapasitas adaptif yang platis (dinamis), bukan statis.


Shofi Mustajibullah Saya Shofi Mustajibullah lulusan SDN Dipenogoro Gondanglegi, SMPN 01 MOJO, SMAN 01 MOJO, PONPOES Al-falah. Saat ini masih mengenyam pendidikan di Universitas Islam Malang dan Pondok Pesantren Kampus Ainul Yaqin

0 Response to "Artificial Intelligence Sebentar Lagi Akan Menggila! Apa yang Harus Kita Persiapkan?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel