SAYA TEROBSESI PADA SEHAT!
Kebetulan saya terlahir dengan penyakit bawaan atau riwayat jantung ASD. Lebih tepatnya, pada dinding antara ruas kanan dan kiri bagian terdapat bolongan lebar 2 cm (masih terhitung normal). Konsekuensi yang terpaksa saya terima adalah mudah lelah, pendarahan pada hidung (mimisan), kepala sering sakit, dan lain sebagainya. Beberapa waktu lalu setelah saya dan keluarga serius mengobati penyakit jantung ASD saya, bila jantung tidak segera ditutup, secara jangka panjang berdampak pada paru-paru. Sebab aliran darah bersih dan kotor bercampur sehingga paru-paru akan berdampak seperti infeksi paru-paru. Mengerikan ya.
Karena bawaan lahir yang demikian memaksa saya untuk intens melakukan pemeriksaan, kontrol bahkan tindakan. Setiap tahun, bulan bahkan minggu saya sering berkunjung ke rumah sakit. Saking intensya, tidak hanya rumah sakit daerah malang saja, bahkan rumah sakit kediri, tempat dimana saya mondok pun pernah saya kunjungi. Terdapat cerita unik tentang pengalaman mengunjungi rumah sakit. Sewajarnya anak remaja, satu sama lain menanyakan lokasi wisata daerah asal apa yang sudah dikunjungi. Teman saya dari surabaya, bercerita tentang wisata-wisata khasnya. Begitu juga lainnya yang dari Lampung, Tegal, atau daerah Palembang. Saat saya ditanya dan menjawab belum pernah mengunjungi wisata manapun, mereka semua tertawa dan heran. Memang aneh, sebab malang kota wisata. Bagaimana bisa warganya sendiri tidak pernah mengunjungi bejibun wisata yang tersedia di tempat kelahiran saya sendiri. Tak menjawab, saya hanya tertawa masam. Dalam hati pun menjawab, setiap liburan semester, setahun dua kali, saya harus ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan atau bahkan opname.
Terlepas dari itu, saya memiliki pengalaman yang membentuk persepsi begitu kuat pada diri saya sendiri. Betapa sering saya melihat orang-orang meronta menunggu respon perawat untuk tindak lanjut perawatan. Tak jarang, entah itu di lobi rumah sakit atau bilik-bilik kamar pasien, suara erangan kesakitan terdengar begitu nyaring dan mencekik. Suara-suara itu menghantui saya, sekaligus mengilhami. Mengapa?
Penyakit jantung memiliki dua kategori besar. Pertama ASD, yang terjadi sedari lahir. Kedua penyakit jantung koroner. Penyakit jantung dari seseorang yang mulanya oleh Tuhan dianugerahi sehat, berfungsi baik sehingga membuat iri para pengidap ASD, kemudian karena pola hidup yang buruk, jantung mengalami penurunan fungsi yang signifikan.
Saya bukan seorang lulusan kedokteran, hanya manusia biasa dengan sokongan bantuan BPJS, tapi setidaknya penyakit secara keseluruhan yang dialami oleh umat manusia terjadi oleh dua sebab, sebab dari lahir dan sebab karena pola hidup yang buruk. Tidak hanya jantung sebenarnya yang muncul sedari lahir, penyakit tidak menular lainnya seperti hipertensi, gagal ginjal, darah tinggi dan penyakit lainnya bisa menjangkit seseorang saat dia baru hadir di dunia fana ini. Saya betul-betul bisa merasakan apa yang direnungi oleh semua orang yang mengidap penyakit riwayat. Bayangkan, saat teman sejawat sudah mendapatkan rentetan prestasi gemilang, menerima penghargaan prestisius, memperoleh apresiasi yang begitu meriah, kita para pengidap penyakit bawaan masih terkungkung pada antrian obat yang sampai sepertiga hari, mengurus administrasi BPJS dari faskes satu lalu kedua, lalu masih sakit lagi. Tapi tak apa kok.
Di satu sisi, seseorang bisa terjangkit penyakit-penyakit tidak menular karena dirinya sendiri. Karena pola hidup yang berantakan. Tak panjang yang bisa saya sampaikan, karena saya bukan pada bagian ini, akan tetapi betapa angkuhnya orang-orang yang mula sehat, namun terjangkit penyakit karena ulahnya sendiri. Alih-alih berusaha menjaga kesehatan, mereka malah merusaknya dengan merokok sehari satu bungkus, begadang, mengkonsumsi gula berlebih, tak berolahraga, mengonsumsi alkohol berkepanjangan. Justru bagian ini yang sangat aneh. Apakah tak sadar ya mereka, bahwa serangkaian pemeriksaan itu membutuhkan biaya, tenaga, waktu yang sangat amat banyak. Tapi kenapa justru mereka bersedia untuk menukar posisi sehat menjadi tak sehat dengan sadar.
Terakhir, dan inti yang ingin saya sampaikan, bahwa kendatipun kesehatan merupakan anugerah, tetapi obat adalah bagian dari ikhtiar bagi manusia, sebagaimana yang disabdakan Nabi Muhammad. Obat tidak melulu kapsul kimia pahit yang ada di apotik. Obat yang baik justru langkah preventif. Beberapa indikator bahwa anda sedikit lagi terkena penyakit dapat dilihat dari tubuh anda sendiri. Coba cek lingkar perut anda, apabila membentang kedepan (buncit) segera kecilkan dengan olaharga kardio seperti lari. Sebab buncit merupakan penumpukan lemak pada perut yang berakibat nirfungsi pada metabolisme. Kemudian juga coba perbandingkan antara berat badan dengan tinggi badan, Ini langkah yang paling simpel. Total tinggi badan kemudian dikurangi seratus sepuluh, itulah yang menjadi acuan. Secara tidak langsung perut akan mengecil dan tubuh ada pada kondisi ideal. Setidaknya saat fokus pada tampilan luar tubuh, secara bersamaan pola konsumsi akan mengikuti. Perlu mengurangi konsumsi yang berbahaya seperti merokok atau beralkohol, mengurangi unsur makanan yang harus pada batas minimal seperti gula atau asinan.
Kehidupan yang terbiasa dengan pola hidup dan pola makan yang baik, akan berbanding lurus dengan kondisi hidup sehat. Kondisi hidup yang diidamkan oleh orang-orang seperti saya. Alhasil, semua orang, baik dengan penyakit bawaan ataupun tidak, menuju hidup yang sehat sangatlah perlu. Kurangi tindakan-tindakan yang justru menjerumuskan pada penyakit. Selagi diberi kesehatan, maka sehatlah untuk berkepanjangan.
.png)
0 Response to "SAYA TEROBSESI PADA SEHAT!"
Post a Comment