KECERDASAN TIDAK STATIS, TAPI DINAMIS!



Beberapa waktu lalu, mungkin kisaran enam sampai tujuh tahun lalu, saat saya menempati kelas 11, serentak satu angkatan melaksanakan tes IQ. Selama tes berlangsung, kondisi kelas sangat tegang, baik jurusan IPA, IPS, dan Bahasa. Setidaknya demikian teman saya bercerita. Bahkan anak-anak yang jarang terlihat saat kegiatan belajar mengajar, atau bahasa sederhananya sering bolos, mengerjakan tes sangat serius. Kami mengerahkan semua kemampuan dalam menyelesaikan test. Dengan alasan, konon test ini merupakan cerminan dari kecerdasaan seseorang. Tentu, saat hasil sudah terbit, anak-anak yang mengikuti test mampu menilai sejauh mana kecerdasannya. Bahkan bisa menjadi ajang validasi. Saya rasa, faktor kedua yang lebih mendominasi.

Singkat cerita, hasil tes IQ sudah terbit. Penilaian tes kepintaran tersebut berbentuk buku satu yang berisikan jawaban setiap anak serta hasilnya. Hampir semua anak mendapatkan nilai rata-rata, dalam artian wajar. Kemudian ada yang mendapatkan di atas rata-rata atau jenius. Kalau tidak salah hanya satu dua orang. Mereka ini, yang sudah mendapatkan legitimasi  dari tes kecerdasan dan mendapatkan nilai diatas rata-rata, disanjung sedemikian rupa. Disebut profesor lah, ditraktir makan lah, dikerubungi lah, menjadi populer seketika lah dan puja puji lainnya.

Saat nama Shofi Mustajibullah dipanggil, saya maju kedepan dengan perasaan gemetar di bagian kaki dan menggigil di sekitar telapak tangan. Setelah saya mengambil hasil tersebut dan membaca hasilnya, teman sekelas seketika menghampiri. Betapa terkejutnya, dari satu kelas, hanya saya yang mendapatkan penilaian berbeda. Di atas rata-rata? rata-rata? jenius? Tidak. Tidak itu semua. Saya mendapatkan legitimasi kecerdasan berupa di bawah rata-rata. membaca hasil tersebut, menimbulkan kebingungan dalam meresponnya. Saya kaget, dengan kaget yang menjadikan nafas seperti tersedak serta tatapan kosong, bersamaan dengan tawa hampa dengan cekikin kecil. Satu teman dekat saya, ya teman dekat saya rasa, langsung mengambil hasil tes IQ, lalu berteriak kencang, kalau Shofi Mustajibullah mendapatkan nilai di bawah rata-rata. Tanpa komando, tanpa pengarahan, serentak satu kelas tertawa kencang. Dalam riak tawa yang tidak lucu bagi saya, melainkan begitu mengerikan, ada satu anak lain menyahut, "Anjir, berarti seangkatan ada tiga orang goblok dong". Mendengar sahutnya, tensi tawa semakin tinggi, ranying dan mencekam. Berdasarkan hasil tes IQ, satu angkatan memiliki tiga orang bodoh, dua entah dari kelas mana, dan satu lagi adalah saya. Orang-orang bodoh tidak mendapatkan sanjungan, julukan over, atau dikerubungi sehingga menjadi populer. Orang-orang bodoh mendapatkan ludah pahit yang berbentuk hinaan dan sayatan pedih berupa tatapan merendahkan. Dan menjadi bahan lelucon satu angkatan.

Tentu, saya enggan mengakui kalau saya bodoh dan tolol. Siapa sih yang rela di sebut orang bodoh, dan siapa pula yang tidak menginginkan penilaian orang lain kalau diri ini pintar! Saya bergejolak, marak, sekaligus cemas. Apakah ini benar, dan memang saya ini bodoh. Tetap, saya tidak percaya kalau saya ini bodoh.

Tapi apa daya, selama berjalannya waktu, saya hampir percaya penilaian itu. Setiap kompetisi saya gagal, hampir seluruh pemilihan tidak tertuju pada saya. Tak pernah sama sekali nama Shofi Mustajibullah ada dalam tengger urutan prestasi formal maupun pesantren. Bahkan saat mendaftar kampus idaman, semua proses masuk universitas selalu gagal. Tak sampai situ, setiap saya mengajukan lomba dan beasiswa senantiasa gagal. Sampai pada satu momen, sepanjang tahun saya tetap dalam kondisi goblok. Dan itu cukup menghancurkan harapan dan cita-cita. Saya tidak siap, selama ini terus mendapatkan hinaan. Sungguh tidak siap.

Sampai pada satu saat, ketika saya sudah mengenyam pendidikan kuliah bersamaan dengan mondok, saya mendapatkan penghargan beruntun. Pada tahun kedua saya mendapatkan prestasi ketiga, pada tahun selanjutnya dua, sampai mendapatkan penghargaan santri terbaik dalam satu jurusan. Sebagaimana orang terus menerima sayatan, saya bingung saat diberi bunga. Orang yang terbiasa dicaci akan kikuk saat mendapatkan sanjungan, tepuk tangan satu ruangan, dan mendapatkan pengakuan. Tidak hanya itu, hobi saya berupa menulis, akhirnya bisa diapresiasi oleh salah satu kanal keislaman terbesar di Indonesia, sehingga saya bisa menjadi bagian mereka.

Saya rasa ini bukan prestasi yang megah. Tapi bagi saya, ini adalah anugerah. Semangat yang sepanjang tahun lalu saya pendam, kini bisa muncul kembali. Melihat seluruh perkembangan dalam hidup saya ini, menumbuhkan satu keyakinan.

Memang dulu saya semengenaskan itu, tapi Allah memberikan saya kesempatan untuk merubahnya. Bahwa hasil yang diterbitkan Tes IQ bukanlah absolut. HAsilnya adalah bodoh bukan berarti saya menjadi orang bodoh selamanya. Test tersebut hanya menjelaskan kualitas kecerdasan pada saat itu saja. 

Selama proses pengembangan diri, saya cukup keras memperbaiki penilaian di bawah rata-rata itu. Walaupun kegagalan dan penolakan tetap terus menghantui saya. Akan tetapi, fakta bahwa kecerdasan tidak statis, melainkan dinamis benar adanya. Dan saya termasuk orang yang membuktikannya

So, kecerdasaan saat ini bukan kondisi absolut kecerdasaan seseorang. Percayalah, dengan belajar sungguh-sungguh, dan sedikit lebih ngoyo, kapasitas kecerdasan akan perlahan meningkat. 

Shofi Mustajibullah Saya Shofi Mustajibullah lulusan SDN Dipenogoro Gondanglegi, SMPN 01 MOJO, SMAN 01 MOJO, PONPOES Al-falah. Saat ini masih mengenyam pendidikan di Universitas Islam Malang dan Pondok Pesantren Kampus Ainul Yaqin

0 Response to "KECERDASAN TIDAK STATIS, TAPI DINAMIS!"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel