SAYA INI LUGU ATAU BERINTEGRITAS?
Terakhir mengukur berat dan tinggi badan saya seberat 68 kg dan setinggi 166cm. Kurang lebih surplus dua kilo jika mengacu pada dua angka terakhir dari tinggi badan saya. Akan tetapi, jika mengacu pada pengukuran ideal, yang memiliki rumus berat badang dikurangi seratus sepuluh (bisa jadi seperti ini), saya surplus tujuh kilo. Tentu surplus berat badan ini menjadi acuan saya dalam menentukan gaya hidup. Seperti menimbang makanan yang masuk dan pola olahraga yang saya terapkan.
Saat ini sudah mulai rutin menekan kebiasaan rakus makan saya. Biasanya ketika makan, nasi full satu piring, semua lauk pauk masuk, sekarang saya batasi. Dalam ukuran diameter lingkaran piring, saya hanya mengisi nasi sepertiganya saja. Kemudian sisanya sayur. Saya meminta kepada ibu supaya rutin menyetok sayur, lebih-lebih sayur yang mainstrem. Air putih secara konsisten habis sebanyak dua liter dalam sehari.Setelahnya, saya memakan buah, kadang apel kadang pir. Dan rutinitas ini sudah mulai stabil.
Lalu, sebagai bentuk komitmen mengidealkan tubuh demi jangka panjang, saya mulai konsisten olahrga kardio. Kebetulan saya terlahir dengan penyakit riwayat jantung ASD. Singkatnya, aktifitas fisik yang terlalu berat harus sebisa mungkin dihindari. Karena hal itu, saya memilihi olahraga kardio ringan. Dua olahraga yang rutin saya lakukan adalah olahrga jalan setelah subuh, dengan rata rata jarak lima ribu langkah.
Kemudian olahraga kedua yakni berenang. Banyak dokter mengatakan, olahraga ini minim resiko, seperti cedera, kehabisan nafas atau resiko lainnya. Satu-satunya resiko berenang adalah tenggelam. Tentu bagi yang tidak bisa berenang. Untuk berenang, saya jadwalkan seminggu maksimal dua kali. Saya selalu berenang di salah satu sumber paling jernih dan luas di kawasan Gondang legi, yaitu Sumber sira.
Nah, ini inti tulisan saya. Setelah selesai bereang, saya menuju kamar mandi untuk mengganti baju. Karena jeding umum, ada orang yang menjaganya. Kebetulan dia tertidur pulas, merebahkan kepala diatas meja.
Tak ada yang menjaga, tak ada yang mengawasi. Harga sewa kamar mandi untuk salin atau kencing lazimnya dua ribu rupiah.
Dalam kondisi ini, sangat menguntungkan bagi siapapun untuk bersikap bodo amat tanpa membayar sewa. Pura tidak melihat penjaga yang kelelahan dan terlelap, langsung menuju ke kendaraan serta pergi begitu saja. Entahlah, mungkin umumnya akan terjadi seperti itu.
Akan tetapi, sesaat berada di depan ibuk penjaga, saya mengambil uang dua ribu yang sudah saya siapkan sebelumnya, lalu menaruh disamping ibuk penjaga. Saya niatkan uang ini untuk membalas jasa atas penyediaan kamar mandi yang pada saat itu saya pakai untuk mengganti pakaian.
Sekitar lima detik, tiga orang yang duduk tak jauh dari saya, tertawa cekikkikan, memandang satu sama lain lalu berkata kepada saya, "Cek lugune sameyan mas, langsung pulang aja". Saya hanya mengangguk dan membalas senyum, yang cukup kecut, lantas pergi menuju motor.
Selama perjalan pulang, sembari fokus melihat arah kedepan, gejolak pikir saya keheranan. Apakah dengan saya membayar jasa sewa kamar mandi tadi, yang mana saya ada di kondisi tepat untuk tida membayar, saya ini sebenarnya lugu atau jujur?
Tapi memang, cakupan sifat-sifat yang dalam wilayah integritas, tidak memiliki condong pada kecurangan, culas, manipulatuf, kebohongan. Dia apa adanya dan memang seharusnya. Saya dipandang lugu, mungkin karena tidak memanfaatkan kesempatan emas saat penjaga kamar mandi tertidur. Saya seperti anak kecil yang takut ketahuan, ketika kabur tidak membayar. Bisa jadi itu pandangan mereka. Namun, sekali lagi, saya tetap membayar. Mengapa? karena saya menjaga integritas dengan tekad penuh. Dalam kondisi apapun yang menimpa saya, integritas harus tetap dirawat
0 Response to "SAYA INI LUGU ATAU BERINTEGRITAS?"
Post a Comment