Paradoks Masyarakat Indonesia: Penanganan "Medis" yang Fatal
Selain memang bodoh perihal literasi kesehatan, masyarakat Indonesia memiliki kultur penanganan "medis" yang sangat fatal. Resikonya menyebar kemana-mana. Selain penyakit yang dialaminya tidak segera membaik, dan justru memburuk, penyakit yang sedang dijangkitnya dijustifikasi sebagai aktivitas paranormal atau mistis. Kalau nggak santet ya kiriman.
Saya ilustrasikan begini, saat bangun tidur tiba-tiba merasa pusing atau pening, itu adalah hal wajar. Kondisi tersebut dipicu karena ketidakstabilan peredaran darah dalam tubuh. Herannya, masyarakat Indonesia justru menangani persoalan ini justru dengan merokok atau ngopi.
Seringkali, kita lihat ada orang yang baru bangun tidur langsung merokok, ya nggak doa ya nggak membasuh wajah. Tentu, saya melihat ini janggal. Saat ditanya, mereka menjawab kepala lagi sakit, lagi pening dan keluhan medis lainnya.
Atau kasus lainnya ayah teman saya. Ginjalnya terus mengalami penurunan fungsi, sehingga sering merasa nyera. Ceritanya, ayahnya sedang diguna-guna oleh segelingitir orang yang berbeda pendapat. Bahkan, saya diberi foto beberapa butiran paku berkarat di bawah tempat tidur ayahnya. Mendengar cerita yang terus bergulir, saya hanya menghormati takzim, namun tidak percaya sama sekali.
Padahal, kalau ditelisik lagi, pemicu kendala medis mereka karena hal-hal alamiah yang berkaitan pemenuhan kebutuhan tubuh. Sekali lagi saya bukan ahli medis atau lulusan kedokteran. Saya yakin, orang yang bangun tidur kemudian pening, pasti minum air putihnya kurang, minimnya jam tidur, sedikitnya aktivitas, jarang memakan serat dari buah dan sayur. Bukan malah merekok, heeyyy anda!
Ironisnya, justru rokok yang dirasa sebagai obat sementara dari pening setiap bangun pagi, adalah penyumbang terbesar dari siklus sakit kepalanya. Rokok berdampak signifikan pada pelemahan fungsi paru-paru. Secara tidak langsung berdampak pada peredarahan darah yang tidak stabil dari jantung. Niatnya merokok untuk mengobati pening yang berulang, justru kebiasaan masyarakat kita adalah merawat dan membesarkan penyakit kepala itu sendiri!
Begitu juga dengan justifikasi mistis pada persoalan medis. Kalau saya tanya keseharian ayah temen saya, pasti kebiasaannya buruk. Pasti jam tidurnya buruk, konsumsi lemak, rokok, kafein, protein berlebih. Kebiasaan inilah yang berdampak pada kerusakan ginjal. Harusnya, si ayah teman saya di bawa ke rumah sakit, kemudian didiagnosa untuk mencari solusi. Bukan merangkai cerita mistis kampungan!
Hemat saya, mulailah melek literasi kesehatan. Karena wawasan tentang kesehatan kembalinya ke diri kita sendiri. Rasulullah sendiri pernah mengingatkan, bahwa nikmat yang disepelkan umat Islam antara waktu luang dan kesehatan. Jangan candu dengan romantisasi perjuangan seseorang namun merawat penyakitnya. Sekarang, melek literasi kesehatab, kurangi konsumsi yang buruk, jaga jam tidur. Jangan lupa bahagia!
0 Response to "Paradoks Masyarakat Indonesia: Penanganan "Medis" yang Fatal"
Post a Comment